SINGOSARI-Polwil Malang menggelar sosialisasi pelaksanaan pengamanan
Pemilu dan pemahaman UU No. 4 tahun 1998, di Hall Rupatama kemarin.
Hadir pula para Muspida delapan Kota/Kabupaten di jajaran Polwil Malang,
Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang Raya. Sesuai data Polwil
Malang, sekitar 362 Tempat Pemungutan Suara masuk kategori rawan II,
Kabupaten Malang menyumbang 101 TPS dan Kota Malang 20 TPS.
Kapolwil Malang Kombes (Pol) Drs. Rusli Nasution mengatakan seluruh TPS
di jajaran Polwil Malang diklasifikasikan dalam tiga kategori, yakni
aman, rawan I dan rawan II. TPS kategori rawan II yang mencapai 362 buah
menjadi atensi khusus karena paling diwaspadai. TPS rawan II di Malang
Raya disumbang Kabupaten Malang 101 TPS dan Kota Malang 20 TPS.
?Komposisi pengamanan di tiap TPS berbeda, 1-5-10 untuk TPS aman, 1-2-4
untuk TPS rawan I dan 2-1-2 untuk TPS rawan II,? terang Rusli.
Melalui komposisi itu maka, satu TPS kategori rawan II akan dijaga 2
Polisi dan 2 Linmas. Sedangkan dua TPS Rawan I akan dijaga 1 Polisi dan
4 Linmas. Sementara TPS yang masuk kategori aman cukup dijaga 1 Polisi
dan 10 Linmas.
?Secara bergantian akan digelar simulasi pengamanan Pemilu, 8
Kota/Kabupaten di jajaran Polwil Malang dibagi menjadi 3 rayon. Rayon I
Malang raya, Rayon II Pasuruan (Kota/Kab) dan Rayon III meliputi
Probolinggo (Kota/Kab) dan Lumajang,? terang Rusli .
Yang paling penting, sambungnya, Polwil menghimbau supaya perimeter aman
instansi pemerintahan, militer dan obyek vital selalu dijaga.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 9 tahun 1998, perimeter aman tersebut
ditetapkan untuk membatasi bentuk penyampaian pendapat di muka umum .
Seperti unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum dan mimbar bebas.
?Gedung milik Pemerintah seperti Kantor Bupati, DPRD perimeternya 100
meter, sarana militer 150 meter, sedangkan obyek vital seperti Lanud Abd
Saleh, Paiton dan PLN 500 meter,? tegas Rusli.
Untuk itu dia meminta Pemerintah Daerah membentuk Sistem Pengamanan
Kota. Paling tidak setiap rayon akan diback up personil pengamanan
mencapai 600 orang. Itu akan ditambah personil TNI dan Personil dari
tiap daerah. ?Polwil Malang siagakan 150 personil,?
DITERTIBKAN: Terminal bayangan di depan Terminal Gadang kemarin
ditertibkan tim gabungan. Tujuannya semua angkutan umum masuk ke dalam
terminal dan tidak mencari penumpang di luar terminal.
MALANG ? Penertiban terminal bayangan di sekitar Terminal Gadang yang
digelar siang kemarin diwarnai protes para sopir angkutan umum. Beberapa
sopir bahkan memilih tetap bertahan mencari penumpang di depan terminal,
dan enggan masuk ke dalam terminal untuk menunggu penumpang.
Sopir jurusan Gadang-Dampit, Mistar melakukan protes karena mendapatkan
penumpang di dalam terminal tidak seramai di luar. Karena itu sejak lama
ia bersama teman-temannya memilih menunggu penumpang di depan Terminal
Gadang, tepatnya di sebelah selatan pintu keluar Pasar Gadang.
?Selama ini jarang ada penumpang yang mau masuk dan menunggu di dalam
terminal. Sehingga kalau menunggu penumpang di dalam terminal pasti
lama. Daripada seperti itu, lebih baik kami ngetem di depan terminal
saja. Kalau Dishub menginginkan kami masuk ke dalam terminal, maka
mereka harus mengupayakan agar para penumpang ini juga masuk ke dalam
terminal. Tidak hanya menunggu di luar terminal seperti yang terjadi
saat ini,? beber Mistar pada Malang Post usai penertiban dilakukan.
Pria asal Sumbermanjing itu melanjutkan, jika Dishub ingin seluruh
angkutan masuk ke dalam, ia memastikan Terminal Gadang tidak akan cukup
menampung angkutan. Pasalnya jumlah angkutan sangat banyak sedangkan
luas lahan Terminal Gadang tidak terlalu besar. ?Pasti tidak akan cukup
jika semua angkutan masuk ke dalam terminal. Lihat saja,? sambungnya.
Protes dari para sopir, ditanggapi dengan santai oleh Kadishub Kota
Malang, Pait Al-Wiyono. Ia menganggap protes tersebut sebagai masukan
yang menjadi dasar untuk meningkatkan pelayanan di kawasan terminal.
?Kami selama ini juga melihat terminal tidak berfungsi dengan optimal.
Untuk itu, selain melakukan penertiban, kami juga melakukan pembenahan
di internal. Misalnya saja seperti pengadaan rambu-rambu, kesiapan
petugas, dan membenahi sarana dan prasarana. Dengan begitu penumpang
merasa nyaman masuk ke dalam terminal dan sopir pun mau masuk ke dalam
terminal untuk mengangkut penumpang,? tutur Pait.
Disinggung mengenai kapasitas terminal yang tidak mencukupi angkutan,
Pait akan mencarikan solusinya. Salah satunya adalah dengan pengaturan
terminal. Yakni dengan menerapkan pintu kedatangan dan pintu
pemberangkatan yang berbeda. Khusus untuk permasalahan ini, Dishub akan
membicarakannya dengan ketua jalur angkutan. Baik itu angkutan kota,
angkutan antar kota dalam provinsi maupun angkutan kota luar provinsi.
Sementara itu, selain menertibkan terminal bayangan di sekitar Terminal
Gadang, dalam operasi besar-besaran yang bekerja sama dengan Polresta
dan Denpom, Dishub juga melakukan penindakan terhadap sopir dan
kendaraan angkutan umum. Berbagai kelengkapan diperiksa, seperti uji
KIR, plat, STNK, SIM maupun izin trayek. Dalam operasi sebelumnya,
banyak sopir yang tidak melengkapi dirinya dengan surat-surat tersebut.
Mereka pun langsung ditilang oleh tim gabungan.
?Untuk penindakan langsung yang paling berat adalah penyitaan kendaraan.
Ini dilakukan jika si sopir tidak memiliki surat-surat,? pungkasnya.
MALANG - Image Malang Raya sebagai produsen narkoba kian kental. Setelah pabrik ekstasi di Kota Batu 2005 silam, kemarin Ditreskoba Polda Jatim berhasil menggerebek pabrik sabu-sabu (SS) di Jl Cucak Rawun II/8 G 2, Kompleks Perumnas Sawojajar 2. Pabrik itu sudah beroperasi sejak awal Januari 2009 lalu dengan omzet mencapai Rp 1,2 miliar per bulan.
Dalam penggerebekan itu polisi mengamankan dua tersangka. Mereka adalah Dedy Sarifudin, 35, dan Nugraha Dewanto, 27. Dedy diketahui sebagai penghuni rumah dan sebagai pemilik pabrik. Sedang Nugraha adalah rekan Dedy yang berperan sebagai penyimpan dan marketing hasil produksi. Nugraha sendiir mengaku kos di Jl Wijaya Kusuma, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis.
Dari tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan seperangkat alat membuat sabu-sabu. Di antaranya, jiregen warna putih berbagai macam ukuran, botol plastik, tabung kaca untuk proses produksi, kompor elpiji konversi, dan wadah plastik berbagai ukuran. Selain peralatan, polisi juga menyita bahan pembuat sabu-sabu. Yakni 5.000 pil epidrine, phosphor, acheton, cairan toluen, alkohol, soda api, dan blue ice. Sore kemarin, para tersangka dan barang bukti dibawa ke Mapolda Jatim untuk pemeriksaan.
Awal terungkapnya home industry (usaha rumah tangga) sabu-sabu itu berawal dari penangkapan Dedy di salah satu rumah keluarganya di Pandaan, Pasuruan, Kamis (12/2) sekitar pukul 20.00. Dedy ditangkap setelah polisi yang melakukan penyamaran memesan sabu-sabu padanya.
Dia ditangkap dengan barang bukti 2 gram sabu yang dibungkus menjadi dua poket plastik. ''Yang mengejutkan, Dedy juga mengaku sebagai pembuat sabu-sabu yang memiliki tempat produksi di rumah kontrakannya di Malang,'' kata Direktur Reserse dan Narkoba (Direskoba) Polda Jatim Kombespol Erwin Siregar yang datang ke TKP.
Kemarin malam, sekitar pukul 01.00, enam anggota Polda Jatim mengeler Dedy ke rumah kontrakannya di Malang. Di rumah itu, polisi menemukan Nugraha Dewanto. Saat ditemukan, pabrik sedang tidak berproduksi karena kehabisan bahan. ''Siang ini (kemarin siang, Red) rencananya salah satu bahan baku pembuat sabu baru akan dipesan,'' kata Erwin.
Saat digerebek, peralatan membuat sabu itu disimpan di ruang belakang bercampur dengan dapur, kamar mandi, dan tempat jemuran pakaian. Tidak ada tempat khusus seperti lemari atau tas sebagai tempat penyimpanan sabu-sabu. Peralatan itu ditempatkan di lantai begitu saja. Bahkan beberapa di antaranya ditempatkan di meja dapur bercampur dengan bumbu masak. Ketika diambil, pada bagian dalam peralatan itu masih tercium sejumlah bahan membuat sabu. Polisi pun lekas memasang police line di dapur milik Dedy.
Mantan Kapolwil Besuki ini mengatakan, setelah ungkap pabrik SS yang dikelola Dedy ini merupakan tangkapan terbesar di 2009 ini. ''Secara kuantitas barang bukti yang diperoleh, kami akui masih kecil. Hanya 2 gram lho, namun untuk kualitas, ini terbilang cukup besar,'' katanya.
Untuk mengetahui kualitas produksi SS buatan tersangka, polisi akan melakukan uji laboratorium. Selain itu pengembangan penyelidikan jaringan juga akan dilakukan. Termasuk memburu kawanan pelaku yang diketahui sebagai guru Dedy membuat sabu. ''Ada dua orang yang kami buru. Pria ini berinisal R dan G,'' kata Erwin.
Pengungkapan industri sabu-sabu di rumah Dedy ini adalah kali ketujuh yang dilakukan jajaran Polda Jatim. Tempat usaha mereka berpindah-pindah. Sebagian besar di daerah Pasuruan, yakni Kecamatan Pandaan, Sukorejo, Bangil, dan Prigen. Dari semua tersangka yang sudah diamankan, rata-rata tersangka mengaku mengetahui cara memproduksi sabu dari R dan G.
Ilmu yang diajarkan dua DPO tersebut untuk membuat sabu-sabu memang cukup sederhana. Tidak membutuhkan alat rumit seperti pabrik sabu kelas internasional yang pernah diungkap. Mereka cukup menggunakan wadah sederhana dan pendinginnya pun menggunakan kipas angin. ''Ya namanya saja home industry-lah, mengaduknya saja kadang pakai tangan,'' katanya.
Sementara, penggerebekan yang dilakukan polisi malam itu dilakukan secara diam-diam. Tidak ada warga yang mengetahuinya. Termasuk Leo, tetangga sebelah utara rumah Dedy. Warga baru tahu jika rumah Dedy digunakan sebagai pabrik sabu-sabu setelah banyak polisi dan wartawan yang datang ke TKP sekitar 10.00 kemarin.
''Pikir saya rumah Pak Dedy kecurian, sehingga didatangi banyak polisi,'' kata Leo yang keseharinya berjualan sayur di rumahnya. Mengetahui kedatangan polisi dalam kaitan penyelidikan rumah Dedy sebagai pemilik pabrik sabu, Leo pun kaget dan tidak menyangka jika tetangga sebelah rumah memproduksi barang haram itu.
KLOJEN - Perwakot Nomor 5/2009 Tentang Tarif Angkutan yang dikeluarkan 29 Januari lalu ternyata kurang bertaji. Tarif mikrolet yang disepakati, yakni Rp 2.300 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar, belum sepenuhnya dipatuhi para sopir. Bahkan, tarif tetap bertahan di angka sebelum penurunan, yakni Rp 2.500 untuk umum dan Rp 1.700 untuk pelajar.
Bukan itu saja, stiker pengumuman tarif baru yang disebar untuk 2.000 mikrolet juga tak mempan. Fakta di lapangan, banyak stiker sobek. Padahal, stiker itu baru diproduksi dishub awal Februari lalu. "Tiap hari saya naik mikrolet . Bayar Rp 2.500 tidak pernah ada kembalian. Sopir juga diam saja," ujar Siti Khotijah, salah satu warga Polowijen.
Padahal, lanjutnya, di dalam mikrolet yang ditumpanginya tertempel stiker yang menyosialisasikan tarif baru. "Sebenarnya kehilangan Rp 200 tidak masalah. Tapi kalau sudah jadi aturan, mbok ya dipatuhi," kata dia.
Andik, salah satu sopir jalur AG mengatakan, aturan tarif baru itu memang tidak disosialisasikan secara langsung kepada penumpang. Keberadaan stiker dianggap mewakili para sopir. Sehingga dia tidak perlu lagi woro-woro soal tarif terbaru. "Semua kan sudah tahu, harusnya membayar dengan uang pas. Meski begitu kami juga menyediakan uang receh," kata dia.
Tapi, lanjut Andik, jika ada penumpang yang membayar Rp 2.500 dan tidak meminta pengembalian, maka dia juga tidak memberikan kembalian. "Saya menganggapnya mereka ikhlas. Tapi banyak juga yang membayar kurang, seperti para pelajar. Ada yang membayar Rp 1.000 kami biarkan saja," bebernya.
Menyikapi persoalan itu, Kadishub Pemkot Malang Pait Al Wiyono mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pantauan bersama tim dishub. Apalagi sosialisasi tarif baru itu telah dilakukan serentak 2-4 Februari lalu. Pengawasan terpadu juga akan dilakukan di seluruh terminal, kawasan keramaian, dan laporan masyarakat. "Kalau benar para sopir belum menerapkan tarif baru, maka sanksinya kena tipiring (tindak pidana ringan) dengan sistem denda," ancam Pait.
Terpisah, Wali Kota Malang Peni Suparto menambahkan, selama ini pemkot hanya berwenang menerbitkan aturan. Soal pengawasan sepenuhnya diserahkan pada SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait. Dalam hal ini dishub. "Urusan di lapangan, apakah aturan itu ditaati atau tidak, kami kembalikan pada mekanisme masyarakat," tandas Peni. Jika masyarakat ingin mendukung perwakot 5/2009, lanjut Peni, maka sebisa mungkin mengikuti aturan yang ada.
MALANG - Konsisten di jalur rock ala Jepang tak membuat J-Rock ditinggal
penggemarnya. Terbukti penampilan band yang terbentuk tahun 2003 dalam
Marlboro Filter Rock Your Night, Jumat (13/2) malam lalu, mendapat
applause panjang dari pecinta musik rock di Kota Malang.
Digawangi Iman (vokal dan gitar), Sony (gitar), Wima (bas) dan Anton
(drum) J-Rock membawakan sepuluh lagu terbaik dari dua album yang telah
diedarkan sejak tahun 2005 dan mini album yang baru dilaunching akhir
tahun 2008 lalu.
Dibuka dengan intro yang menghentak dan single dari album pertama,
Lepaskan Diriku, Iman dan kawan-kawan langsung mengguncang ribuan
penonton Rock Your Night. Penonton yang didominasi anak muda itu
langsung ikut berjingkrak-jingkrak dan ikut menyanyikan lagu yang sempat
masuk top ten tangga lagu di tahun 2005 lalu.
Setelah menembangkan single pertamanya itu, Iman menyapa lautan manusia
yang tetap tertib sepanjang acara berlangsung. "Apa kabar Arema? Apa
kabar J-Rockstar(sebutan untuk penggemar J-Rocks)? Tetap asyik sampai
acara selesai, ya!" seru vokalis yang selalu tampil dengan dandanan
Harajuku Style.
Dalam gelaran ini J-Rocks memberikan kejutan kepada J-Rockstar dengan
memainkan lagu dari mini album terbaru mereka, Jingle/On The Road To
Abbey. Lagu ini diciptakan saat band yang bernaung di bawah label
Aquarius Musikindo ini melakukan rekaman di Abbey Road Studio London.
Tak hanya mengajak pecinta musik rock asyik berjoged, masing-masing
personel J-Rock juga memanfaatkan momentum ini untuk pamer skill.
Dimulai dari Sony yang memetik gitar dengan efek-efek keras, Wima yang
membetot basnya dengan full power, serta Anton yang menggebuk drumnya
dengan penuh semangat. Aksi memukau masing-masing personel ini langsung
mendapat acungan jempol dan pujian yang tak putus-putus.
Lagu berjudul I'm In Love With You yang dinyanyikan usai unjuk skill
langsung mendapat apresiasi yang sangat besar dari penonton. Semuanya
dengan kompak mengikuti Iman bernyanyi. Lagu ini memang terdengar akrab
di telinga penonton karena baru saja diluncurkan dan masih tetap
bertahan di tangga lagu radio dan televisi. Acara pun terus berlanjut
dengan lagu-lagu J-Rock yang menghentak seperti Juwita yang cenderung
beraliran Rock & Roll dan Cobalah Kau mengerti, single pertama di album
kedua yang beredar tahun 2007.
Aksi panggung band yang mirip dengan band Jepang L'Arc~en~Ciel ini
diakhiri dengan tembang Kau Curi Lagi, yang pernah dipopulerkannya
bersama penyanyi perempuan, Prisa dari Death Squad. "Malang asyik,
penontonnya asyik. Pokoknya manggung di Malang sangat perfect," aku Iman
saat ditemui Malang Post usai manggung.
Sebelum penampilan J-Rock, penggemar musik rock di Kota Malang terlebih
dahulu disuguhi dengan aksi-aksi dari band lokal yang juga membawakan
musik beraliran rock. Selain itu ada juga penampilan dari DJ Je-FREE,
Breaker Rocket dan Guitar Heroes oleh gitaris muda berbakat asal
BATU ? Bencana alam, tampaknya makin ?bersahabat? dengan wilayah Malang Raya. Kemarin, dua rumah ambles masuk ke tanah dan 79 rumah lainnyadi wilayah Kota Batu, juga terancam hilang. Sementara di Kabupaten Malang, delapan rumah retak-retak karena tanah bergerak. Di Kota Batu, amblasnya rumah itu akibat rongga bekas galian pasir ambrol. Akibatnya, dua rumah di Jalan H Agus Salim, Gang II Batu, ambruk. Rumah milik Mislan dan Rohana itu, seperti tertelan bumi hingga kedalam 7 sampai 12 meter. Bencana yang sama juga sedang mengintai 79 rumah milik warga dilokasi yang sama karena berada diatas kondisi tanah yang sama. Selain harus menanggung kerugian lebih dari Rp 100 juta, kemarin 12 kepala keluarga atau sekitar 55 warga, terpaksa mengungsi karena rumah mereka menggantung dan retak. Semua barang milik warga pun ikut dievakuasi. Peristiwa yang membuat warga panik itu terjadi Rabu malam sekitar pukul 20.30 WIB hingga Kamis subuh kemarin. Bencana itu berawal dari rumah Mislan. ??Pertama lantai retak.
Kemudian ada suara kreek... kreek....kreek. Setelah itu ruang tengah jatuh (ambrol),?? kata Sulastri, salah seorang anak Mislan. Beruntung saat mendegar suara getaran, lima orang anggota keluarga itu langsung semburat keluar rumah. Belum jauh melangkah, rumah berukuran 7 x 7 meter itu runtuh kedalam rongga tanah yang ambrol. Tak berselang lama, rumah milik Rohana juga ikut ambrol. Sampai kemarin pagi sekitar pukul 03.30 WIB, seisi rumah Rohana juga tertelan bumi. Beberapa saat kemudian, rumah milik Janji Purnomo retak dan menggantung. ??Semua barang kami ikut ambles. Hanya tinggal pakaian dibadan saja,?? kata perempuan 34 tahun ini. Sedangkan barang berharga lainnya dan perabot rumah hingga barang elektronik hancur. ??Kerugiannya lebih dari Rp 150 juta. Rumah baru saja direnovasi dengan biaya Rp 7 juta,?? kata Sulastri. Sedangkan jumlah kerugian yang dialami Rohana diperkirakan sekitar Rp 100 juta. Jumlah kerugian bisa bertambah karena pemiliknya belum menghitung secara detail. Sejak kemarin malam hingga tadi malam, 55 warga masih mengungsi. Sebagian diantara mereka menumpang di tetangga atau kerabat. Selain itu, warga juga mendirikan posko untuk korban bencana. Ketua RT 02, RW 01, Sisir, P Siswono tadi malam mengatakan, warganya masih digelayuti kekhawatiran. Sebab malam tiba, getaran disekitar pemukiman warga pun semakin terasa. ??Ini yang membuat warga khawatir,?? katanya.
Lebih lanjut, Siswono mengatakan, penyebab bencana karena rumah penduduk berada diatas rongga bekas galian pasir. Pada 1965 sampai 1979 lalu, kata Siswono, pemukiman penduduk itu merupakan kawasan penggalian pasir. Saat ini, lanjut manajer Toko Oen Malang ini, ada 79 rumah yang berada di atas rongga bekas galian pasir. Dia mengetahui hal ini karena sejumlah warganya yang menggali septik tank selalu mendapati rongga saat menggali di kedalaman 5 meter. Tragisnya, kini para penggali pasir pada era 1960-an itu sudah tidak ada lagi sehingga mereka tidak mengetahui persis tentang rongga. Bahkan mereka tak mengetahui akses rongga dibawah bangunan dipemukiman padat penduduk itu. Secara terpisah, kepala Bakesbangpolinmas, Choiril Anwar mengatakan rumah penduduk yang ambrol karena berdiri diatas rongga bekas galian pasir. Karena itu, menurut dia perlu ada pendataan dan pembahasan yang detail untuk penanggulannya. Sedang di wilayah Kabupaten Malang, siaga bencana yang diterapkan Satlak PB Kabupaten Malang benar-benar terbukti.
Sedikitnya 42 jiwa warga Dusun Jawar Desa Srimulyo Kecamatan Dampit mengungsi karena rumahnya retak terkena tanah bergerak, Rabu pagi (4/2) lalu. Hingga warga yang berasal dari delapan Kepala Keluarga itu masih mengungsi di rumah sanak famili yang aman. Informasi melalui Kasubag Sanditel Pemkab Malang Bagyo Setiono, bencana itu menerpa pagi pukul 08.00 WIB. Karena medan yang sulit, informasi ke pihak Kecamatan baru sampai pukul 16.00 WIB. Atas laporan warga, pihak Muspika langsung mengambil inisiatif. ??Muspika langsung turun dan mengevakuasi warga, ditempatkan dirumah saudaranya yang aman??? ujar Bagyo kepada Malang Post Rabu dinihari lalu. Menurut Bagyo, bencana tanah bergerak itu terjadi akibat curah hujan yang tinggi di kawasan Dampit. Disisi lain pemukiman warga Dusun Jawar juga terletak di perbukitan gundul yang rentan bencana. Kabag Linmas Pemkab Malang Agung Sukarno menyatakan daerah itu tak aman. ??Meski retak tanpa bergeser jauh namun masih bahaya, warga mengungsi tanpa batas waktu,?? ungkap Agung kemarin. Berdasarkan laporan Kades setempat, kerugian ditaksir mencapai Rp 369 juta. Sejauh ini kerusakan terparah terjadi para rumah-rumah warga Dusun Jawar. Sementara, Kalakhar Satlak PB Kabupaten Malang Rendra Kresna mengatakan Pemkab menyediakan alokasi bencana Rp 5 miliar. ??Pemberian bantuan menunggu penanganan dari Satlak PB, kita lihat juga tingkat kerusakan,?? ungkap Rendra. Terpisah, curah hujan yang tinggi juga membuat satu pohon tua berukuran besar tumbang di Kecamatan Poncokusumo. Pohon tersebut tumbang Rabu dinihari di jalur menuju Desa Ngadas, persisnya diatas Coban (air terjun) Pelangi. Informasi ini dilaporkan oleh Kecamatan kepada Sanditel Pemkab Malang.
MALANG - Meski gerhana matahari cincin tidak bisa disaksikan langsung di langit Kota Malang, namun warga tetap antusiasme menyambut fenomena alam tersebut. Seperti yang dilakukan puluhan umat muslim kemarin. Dengan khusyuk, mereka melakukan salat sunah dua rakaat di Masjid Jamik Kota Malang sekitar pukul 15.10 atau setelah salat jamaah Ashar.
Ketua I Takmir Masjid Jamik Kota Malang HM. Kamilun Muhtadin mengatakan, dalam agama Islam salat gerhana dua rakaat hukumnya sunnah muakad. Artinya, sunnah yang dianjurkan karena fenomena ini sangat langka. ''Kebetulan, munculnya gerhana matahari zaman dulu bertepatan dengan wafatnya salah satu putra Nabi Muhammad SAW bernama Sayid Ibrahim," terang Kamilun.
Karena sangat kebetulan, akhirnya umat Islam zaman nabi dulu hiruk pikuk dibuatnya. Mereka mengira bahwa wafatnya Sayid Ibrahim-lah yang mengakibatkan matahari tertutupi bulan. ''Akhirnya nabi menjelaskan bahwa gerhana matahari adalah fenomena alam. Kemudian nabi menyuruh untuk salat dan berdoa," ungkap Kamilun.
Terpisah, Ketua Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Karangploso Antoyo Setiadi Pratikto mengatakan, gerhana matahari cincin (GMC) yang terjadi kemarin memang tidak bisa dilihat penuh dari Kota Malang. Sebab, jalur lintasan GMC dimulai dari Samudera Hindia sekitar selatan perairan Benua Afrika pada pukul 06.06 GMT atau pukul 13.06 WIB. Kemudian menelusuri Samudera Hindia, daratan Sumatera bagian selatan, Jawa paling barat, Kalimantan Barat-Tengah-Timur, sebagian Provinsi Gorontalo, dan berakhir di perairan Selatan Mindanao, Filipina pada pukul 09.52 GMT (16.52 WIB). ''Wilayah Indonesia yang pertama kali kontak dengan sentral gerhana adalah pulau Engganau di Sumatra," ujar Antoyo.
Sedang puncak gerhana terjadi saat bayang-bayang bulan menutupi 92,82% permukaan matahari pada pukul 08.00 GMT (15.00 WIB) tepat di tengah Samudera Hindia. Menurut Antoyo, secara umum GMC terjadi sepanjang 14.500 km dengan lebar jalur bayang-bayang bulan yang menutupi sinar matahari selebar 280 km. ''Jalur itu melewati 0,9% luas seluruh permukaan bumi dengan lama gerhana 3 jam 46 menit," tandasnya.
Gerhana matahari terjadi jika bulan menutupi atau menghalangi cahaya matahari yang menuju ke bumi. Gerhana matahari ada tiga jenis, yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, dan gerhana matahari sebagian. Gerhana matahari total terjadi jika diameter bulan lebih besar dari diameter matahari sehingga matahari tertutup kesuluruhan.
Sedang gerhana matahari cincin terjadi apabila diameter bulan lebih kecil dari diameter matahari sehingga tidak tertutup secara keseluruhan sehingga membentuk sebuah cincin yang melingkar. Sementara, gerhana matahari sebagian terjadi jika bulan tidak persis menutupi matahari, sehingga matahari terlihat sebagian saja.
MALANG - Tahun baru Imlek 2560 dirayakan kemarin. Ratusan umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, dan Tao) melakukan sembahyang Cin Sia di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Eng An Kiong. Mereka mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan.
Dengan khidmat, umat Tri Dharma bersimpuh di hadapan altar dan memanjatkan serangkaian doa dan puji-pujian sembari memegang hio yang menyala. Doa-doa tersebut juga dipersembahkan di hadapan dewa utama Fu Tek Cen Sen serta di hadapan Dewi Kwan Im. Ritual itu membuat seluruh ruangan tempat ibadat dipenuhi asap dan aroma dupa. Begitu juga nyala lilin merah. "Sembahyangan ini adalah puncak menyambut datangnya tahun baru Imlek setelah menjalani ritual penyambutan sejak dua pekan lalu," ucap Bunsu Anton Triono, ketua bidang keagamaan Eng An Kiong.
Anton menjelaskan, angka 2560 Imlek tersebut merupakan hasil penjumlahan tahun kelahiran Nabi Khongcu, yakni tahun 551 dengan tahun Masehi 2009. Jika dijabarkan, sebenarnya kalender Imlek atau Im-Lik tersebut berdasarkan sistem luni-solar. Sebuah perhitungan dengan dasar gabungan sistem lunar (Im-Lik) dan solar (Yang-Lik). Sistem lunar adalah sistem yang didasarkan pada perhitungan bulan mengelilingi bumi. Sedangkan sistem solar berlandaskan peredaran bumi mengelilingi matahari. "Sistem luni-solar sendiri merupakan gabungan keduanya. Jadi, sebenarnya, yang benar adalah Im Yang-Lik, bukan Im-Lik. Hanya saja, selama ini lebih terkenal dengan Im-Lik," terang Anton.
Menurut dia, tahun ini seluruh warga Tri Dharma dihadapkan pada tahun Kerbau Tanah. Yakni gabungan antara shio kerbau dan elemen tanah. Berdasarkan falsafah yang dianut, shio kerbau dengan elemen tanah sangat identik. Kerbau binatang yang selalu bersinggungan dengan tanah. Jika digabungkan, tahun Kerbau Tanah mencerminkan sebuah kondisi untuk bekerja keras, tekun, dan sabar. Sehingga, siapa pun yang memiliki sifat kerbau tanah akan mendulang keberhasilan. "Tapi jangan sekali-kali dicocok hidungnya. Ini akan bahaya," ujar Anton.
Dikaitkan dengan tahun 2009 dan agenda pemilihan legislatif maupun presiden, pada tahun Kerbau Tanah, seseorang jangan sampai terkecoh kondisi. "Etos kerja yang baik dan kerja keras serta sabar tetap menjadi kunci untuk menatap tahun 2010 dengan lebih baik," ucap Anton.
Kemeriahan menyambut datangnya Imlek juga tersaji di beberapa tempat di Kota Malang. Atraksi barongsai tampak menghibur pengunjung Malang Town Square dan Plaza Araya Dengan atraksi jenaka, barongsai tersebut menyapa dan melambai-lambaikan tangan sebagai salam khas kepada pengunjung.
MALANG - Nasib 12 stasiun televisi (TV) nasional dan lokal di Malang 23 Desember lalu tampaknya belum ada titik terang. Bahkan, kemarin KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Jatim memberikan sinyal bahwa proses pemberian rekomendasi kelayakan (RK) untuk TV-TV siaran Malang tak bisa dipastikan. Alasannya, proses rekomendasi sangat panjang dan penuh kehati-hatian.
Hal itu diungkapkan Ketua KPID Jatim Fajar Arifianto Isnugroho saat dihubungi kemarin. Fajar menegaskan, sebenarnya RK bagi KPID bukanlah izin siaran. Karena itu, dia juga tidak bisa memberi jaminan jika RK keluar, maka stasiun-stasiun TV di Malang bisa siaran kembali. ''RK memang kewajiban KPID. Tapi, izin siaran bukan dari KPID, melainkan dari Ditjen Postel," kata Fajar.
Karena itu dia berharap semua pengelola stasiun TV di Malang tidak sekadar memburu RK jika hanya ingin cepat siaran. Kondisi itu malah membuat KPID tidak nyaman dalam pembahasan proses RK. Apalagi, faktanya di Malang hanya tersisa satu kanal TV (kanal 48) dan satu kanal radio (kanal 87,9). Itu pun, satu kanal TV di Malang telah diduduki Batu TV. ''KPID merasa serba rumit dalam situasi ini. Sebab, ada 9 TV Malang yang sedang proses EDP," terang dia.
Di lain hal, lanjut Fajar, proses RK melalui tahapan panjang. Mulai pengajuan, evaluasi dengar pendapat (EDP) 1 dan 2 yang kemudian masuk pleno. Pelaksanaan pleno pun tidak bisa dilakukan serentak pada 9 TV Malang. Tapi, pleno masing-masing bertahap satu demi satu. Sementara, dalam pleno ada tiga pembahasan. Yakni, pleno skoring, pleno nilai, dan pleno hasil akhir. Begitu tahapan pleno telah dilalui, maka RK bisa dikeluarkan. ''Kalau pun pleno 9 TV lokal Malang sudah tuntas, bukan berarti KPID akan memberikan RK untuk semuanya," tandasnya.
Sebab, menurut Fajar, ada pertimbangan lain yang harus dilakukan. Salah satunya, kesanggupan industri televisi melanjutkan kehidupannya. Terutama dari segi usaha atau bisnis. Pertimbangan lain, pengeluaran RK bukan wewenang tunggal ketua KPID. Tapi, merupakan suara bulat tujuh anggota KPID Jatim. ''Percuma saja diberi RK jika ke depan ternyata tidak mampu menghidupi perusahaan," kata Fajar.
Kendati aturan dan proses yang ditempuh KPID cukup rumit, namun Fajar berjanji akan segera menuntaskan proses RK TV lokal Malang. Termasuk, mencarikan formula baru agar semua stasiun TV lokal Malang bisa siaran kembali. Baik dengan langkah ISR (izin siaran radio) sekunder maupun digitalisasi. ''Untuk semua itu saya sedang melakukan koordinasi dengan Ditjen Postel," ucap Fajar.
MALANG - Turunnya harga BBM pukul 00.00 WIB tadi malam belum menjamin diikuti penurunan tarif angkutan kota (angkota) secara signifikan. Tak hanya pengusaha dan sopir angkota yang berat menurunkan tarif, Organisasi Gabungan Angkutan Garat (Organda) Malang hanya merekomendasikan penurunan tarif 4 persen.
Persentase itu berasal dari hitungan paling maksimal yang akan diusung Organda jika mereka berkoordinasi bersama Dishub Kota Malang nanti. Ketua Organda Malang Soewito Widjaja mengatakan, usulan 4 persen tersebut hasil itung-itungan organisasi pengusaha angkutan yang mengelola lebih dari dua ribu orang itu. ''Angka 4 persen paling maksimal. Lebih dari itu sangat berat," ujarnya kemarin.
Dengan penurunan maksimal 4 persen versi Organda, maka tarif angkota hanya akan turun sekitar Rp 96 atau dibulatkan menjadi Rp 100. Usulan tersebut sama persis dengan usulan penurunan tarif angkutan tahap I yang juga turun Rp 100.
Praktis, jika usulan ini disetujui, maka tarif angkota untuk umum hanya akan jadi Rp 2.300 dari sebelumnya Rp 2.400 setelah penurunan tahap I. Sedang tarif angkutan kelompok pelajar menjadi Rp 1.600 dari sebelumnya Rp 1.700.
Seperti dijadwalkan pemerintah, tadi malam tepat pukul 00.00 WIB tadi malam harga BBM jenis premium yang awalnya Rp 5.000 turun menjadi Rp 4.500. Begitu juga dengan harga solar per liter yang mulanya Rp 4.800 turun ke angka Rp 4.500. Penurunan harga BBM ini adalah kali ketiga yang dilakukan pemerintah dalam dua bulan terakhir.
Kendati turunnya harga BBM tersebut kembali pada formasi awal sebelum pemerintah menaikkan harga, menurut Soewito tidak mungkin tarif angkutan kembali seperti semula. Yakni, Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar. "Komponen BBM hanya mensuplay 25 persen kebutuhan angkutan kota," kata dia.
Apa yang membuat Organda minim menurunkan tarif? Soewito mengatakan, meski harga BBM turun, namun spare part tetap menjadi kendala utama. Bahkan, penurunan tarif BBM malah diikuti naiknya harga spare part sebesar 20-50 persen. ''Makanya jangan lihat turunnya BBM. Komponen lain malah naik drastis. Belum lagi urusan perut pengemudi," tegas Soewito.
Belum lagi aturan peremajaan mobil usia 15 tahun ke atas yang cukup menjadi beban. Pasalnya, penjualan mobil saat ini juga tidak mengacu pada penurunan harga BBM. Tapi, berpijak pada harga dolar. Sedang kurs dolar pasca krisis finansial global terus merangkak naik.
''Harga dolar naik tajam sampai 12 persen. Pengaruhnya pada pemasaran mobil sangat luar biasa," ucapnya.
Berpegang pada fakta-fakta di atas, Soewito berharap masyarakat mau mengetahui bahwa banyak faktor X yang belum diketahui masyarakat. ''Fakta-fakta itu akan saya paparkan dalam koordinasi bersama badan pembina transportasi daerah (BPTD) dan YLKI nanti," tandasnya
Dihubungi terpisah, Kadishub Pemkot Malang Pait Al Wiyono mengatakan, itung-itungan penurunan tarif oleh BPTD saat ini masih dalam proses. Menurutnya, banyak faktor yang digunakan acuan dalam penurunan tarif tersebut. Terutama, komponen BBM dan suku cadang. ''Masih dalam proses jadi belum bisa membeberkan," kata dia.
Lebih lanjut, Pait menegaskan bahwa hasil itung-itungan BPTD tersebut akan dibahas bersama dengan Organda dan YLKI Jumat (16/1) pagi di balai kota Malang. Agenda itu merupakan pertemuan tahap I untuk meng-clear-kan hitungan semua elemen terkait penurunan tarif angkutan kota. ''Begitu semua hitungan disepakati, maka akan diresume dan diserahkan ke wali kota untuk mendapatkan perwakot," ucap Pait.
Sementara, Ketua YLKM Malang Soemito mengusulkan penurunan tarif angkota sebesar 16 persen. Sebab dalam penentuan tarif angkota, komponen biaya BBM hanya 30 persen. Apabila dengan harga BBM sebesar Rp 6.000, maka unsur tarif dari faktor BBM sebesar Rp. 1.700.
Jika saat ini ada penurunan harga BBM sebesar 25 persen, dari Rp 6.000 menjadi Rp 4.500. Maka, penurunan tarif angkota 25 persen atau sekitar Rp 400 dari Rp 1.700. Dengan hitungan tersebut, maka tarif angkota yang baru idealnya Rp 2.100 untuk umum dan Rp 1.400 pelajar. "Tapi khusus pelajar bisa dibulatkan menjadi Rp 1.500," kata Soemito.
Terkait dengan tawaran Organda penurunan sebesar 4 persen, Soemito menilai, tawaran itu dianggap tidak realistis. Sebab penurunan tarif tersebut tidak sesuai dengan penurunan harga BBM sebesar 25 persen. Meski demikian YLKM akan tetap menghormati keputusan dari rapat dengan dishub, BPTD, dan ketua jalur nantinya.
"Intinya, YLKM minta tarif baru nantinya bisa diterapkan di lapangan. Karena faktanya sopir banyak yang suka membulatkan tarif. Buktinya saat ini pelajar harusnya Rp 1.800 tapi ada yang menarik Rp 2 ribu," tegasnya.
MALANG - Empat hari lagi tepat satu tahun kerusuhan Stadion Brawijaya, Kediri, yang melibatkan Aremania. Akibat kerusuhan pada babak delapan besar saat melawan Persiwa Wamena pada 16 Januari 2008 itu, Aremania terkena sanksi skorsing 2 tahun. Suporter fanatik tim berlogo kepala singa tersebut tak boleh mengenakan atributnya di even resmi PSSI di seluruh stadion di Indonesia selama 2 tahun.
Nah, untuk memperingati acara itu, Aremania menggelar pertemuan di Kalipare, Kabupaten Malang, kemarin. Dalam pertemuan tersebut disepakati, Aremania harus lebih dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan. Semua korwil diharapkan mampu meredam emosinya jika Arema menelan hasil buruk di kandang. "Kami memang menginginkan Arema menang di kandang. Tapi, kalau Arema kalah, Aremania harus bisa berpikir jernih. Sehingga kerusuhan tak terjadi," kata Ahmad Ghozali, Aremania Korwil Klayatan.
Menurut pria yang akrab disapa AK tersebut, sekitar 100 Aremania yang hadir dalam pertemuan tersebut sepakat bahwa kerusuhan harus dihilangkan dari sepak bola di Indonesia. Sedangkan dari perwakilan manajemen tampak hadir Ketua Panpel Arema Muhammad Muklis. Selain itu, juga tampak hadir Sekkota Malang Bambang Dharmawan Suyono.
Selain refleksi 1 tahun peristiwa di Kediri, pertemuan itu juga membahas mengenai masalah persiapan Arema menghadapi putaran kedua Indonesia Super League (ISL). Aremania bersepakat bahwa semua persiapan tim diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. "Aremania menyadari kesulitan-kesulitan yang dihadapi manajemen," terang Ahmad.
Sementara itu, Muklis mengharapkan agar kerusuhan-kerusuhan tak terjadi lagi dalam pertandingan home atau pertandingan yang melibatkan Arema. Dia berharap agar kerusuhan pada 13 September saat Arema dikalahkan PKT Bontang 1-2 di Stadion Kanjuruhan tak terulang lagi. Sebab kerusuhan akan menyebabkan Arema ataupun Aremania rugi.
MALANG - Proses legalitas draf kenaikan tarif PDAM di bagian perekonomian Pemkot Malang tampaknya tidak akan bisa diutak-atik lagi. Bukan hanya DPRD yang harus gigit jari karena semua kritik pedasnya tak digubris. YLKM (Yayasan Lembaga Konsumen Malang) pun tak bisa berbuat banyak dan hanya mengaku pasrah.
Ketua YLKM Soemito mengatakan hanya bisa menyayangkan langkah PDAM yang menaikkan tarif dasar air 30 persen. Sebab, langkah mediasi dan konsultasi yang dilakukan YLKM dengan jajaran direksi PDAM juga mentok. "Kamis (8/1) saya datang langsung ke PDAM. Jawabannya, kenaikan 30 persen tidak bisa diutak-atik," ungkap dia.
Padahal, saat itu YLKM meminta agar kenaikan tarif PDAM tidak sebesar 30 persen. Tetapi di bawah angka 30 persen. Sebab, dengan kenaikan 30 persen, beban masyarakat semakin berat. Apalagi ditambah krisis finansial global yang tetap berlangsung sehingga membuat harga semua komoditas naik tajam. "Turunnya harga BBM dan naiknya upah minimum kota (UMK) bukan ukuran menaikkan tarif air," ujarnya.
Seperti diberitakan, sejak 5 Januari lalu PDAM telah melayangkan draf kenaikan tarif air kepada Pemkot Malang. Menurut keterangan Asisten II Sekkota Malang Sutiarsi, draf tersebut telah mendapatkan disposisi dari wali kota dan kini masuk proses di bagian perekonomian untuk legalitas hukum.
Soemito menjelaskan, berdasarkan keterangan langsung yang dia peroleh, kenaikan tarif PDAM berlaku untuk rekening Maret 2009. Artinya, penggunaan air bulan Februari telah mengalami kenaikan 30 persen. "Penggunaan air Februari kan dibayarkan Maret. Secara tidak langsung, aturan kenaikan 30 persen itu berlaku mulai Februari," beber Mito -sapaan akrab Soemito.
Kenaikan itu berlaku untuk semua kelompok pemakai. Baik kelompok rumah tangga biasa, rumah tangga plus bisnis, rumah tangga dan industri, maupun kategori tangki air. "YLKM memang tidak bisa berbuat banyak. Tapi kami akan terus memantau kebijakan ini," tandasnya.
Terpisah, humas PDAM Anita Sari saat dihubungi tidak mau berkomentar banyak. Termasuk soal persentase kenaikan tarif. "Pasti kami sosialisasikan," ucapnya.
MALANG - Masyarakat Malang Raya tampaknya harus mewaspadai penularan penyakit diare. Sebab data di RSSA Malang, jumlah penderita diare 2008 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Data 2008, jumlah pasien yang dirawat di RSSA mencapai 995 orang. Dari jumlah itu, 24 orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah penderita 2008, lebih banyak dari tahun 2007, yang hanya 967 orang. Sedangkan pasien yang meninggal dunia sebanyak 41 orang.
Jika dicermati, usia seseorang yang rawan terserang penyakit diare pada balita. Pertama, usia 1-4 tahun (317 orang), bayi usia 28 hari- 1 tahun (282 orang), 5-14 tahun (152 orang), 15-24 tahun (25 orang), 25-44 tahun (54 orang), 45-64 tahun (58 orang) dan usia di atas 65 tahun (61 orang).
Irene Ratridewi, SpA, dokter spesialis anak RSSA mengatakan, penyakit diare memang selalu ada dan datangnya setiap saat. Penyebabnya bisa pola makan yang salah dan kurang menjaga kebersihan. Terlebih lagi kebersihan pada saluran pembuangan (sanitasi). Apalagi saat ini, banyak dijumpai makanan yang cepat saji yang kebersihannya diragukan. "Kondisi inilah yang bisa menjadi penyebab diare," ujar Irene Ratridewi, kemarin.
Terkait pasien balita yang banyak menderita diare, disebabkan penanganan ibu terhadap anak terkait kebersihan kurang terjaga. Hal itu yang membuat mereka rawan terkena penyakit diare.
Untuk bisa terhindar dari penyakit diare, kata Irene, masyarakat harus memperhatikan soal kebersihan. Minimal cuci tangan setiap menjalankan aktivitas, terlebih lagi saat akan makan. Selain itu, juga selalu menjaga kebersihan MCK (mandi, cuci, dan kakus). Sebab MCK yang tidak bersih juga menjadi penyebab utama terjadinya diare. Sedangkan untuk makanan, usahakan memasak makanan yang matang.
Tidak hanya itu, kata Irene, angka pasien cenderung meningkat bisa disebabkan Kota Malang yang sekarang sering dilanda banjir. Tidak menutup kemungkinan, banjir tersebut mengakibatkan banyaknya kotoran di sungai dan membuat banyaknya saluran pembuangan yang rusak, sehingga mengakibatkan penyebaran penyakit diare cepat berkembang. "Memang banjir dampaknya tidak seketika itu dirasakan. Melainkan bisa sesudahnya baru muncul penyakit," tuturnya.
Disinggung korban yang meninggal, Irene menjelaskan, pasien yang meninggal memang kondisinya sudah jelek. Artinya saat dirujuk di RSSA kondisi kesehatannya sudah sangat lemah. Dan kebanyakan merupakan pasien dari rujukan dari luar Malang. Hal ini mengakibatkan, penanganan pasien sedikit terlambat sehingga tingkat meninggal dunia lebih besar.
Berkaca dari situ, lanjut Irene, pihaknya meminta, agar pasien diare ini tidak usah dipaksakan untuk dibawa pulang. Sebab pasien yang terkena diare membutuhkan banyak cairan. Selama pasien tersebut belum sembuh benar, jangan dipaksakan untuk dibawa pulang. Karena rata-rata pasien yang meninggal dunia, kondisinya memburuk yang diakibatkan pulang paksa.
KEPANJEN - Reskrim Polres Malang menangkap Yahdi Sujarwadi, 45, warga Jl Raya Senggreng, Sumberpucung. Yahdi diduga sebagai pelaku trafficking terhadap tiga gadis, masing-masing MJ, 21; WS, 21; warga Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar); dan VN, 26, warga Blimbing Kota Malang. Rencananya, ketiganya akan dikirim ke Samarinda Kalimatan Timur (Kaltim).
Sedangkan pelaku ditangkap polisi di seputar pasar Lawang pada Rabu (31/12) saat akan mengantar tiga gadis tersebut ke Bandara Juanda Surabaya. Kepada polisi, Yahdi mengatakan, tiga gadis itu akan dikirim ke rumah bordil di Kaltim milik ayahnya yang bernama Ramu.
Untuk memberangkatkan mereka, laki-laki yang mengaku pernah kerja di Arab Saudi ini menghabiskan biaya sekitar Rp 4,5 juta. Masing-masing untuk biaya perawatan Rp 1,8 juta dan komisi kepada perantara Rp 1,5 juta serta kebutuhan lain.
Menurut dia, yang mendatangkan tiga wanita kepada dirinya adalah Siti, warga Surabaya. Ketiganya dijemput di Tanjung Perak. Siti mengajak ketiganya ke Kepanjen untuk ditemukan dengan dirinya. Namun, saat akan berangkat ke Juanda, mereka ditangkap polisi di Lawang.
VN, dalam keterangannya mengatakan, dia bersama dua temannya tersebut baru selesai kerja di Pontianak. Selanjutnya mereka dikenalkan WS kepada Dina. Dina lalu mengenalkan tiga wanita itu kepada Siti. Selanjutnya ketiganya akan dijanjikan pekerjaan.
Kemudian Siti menjemput mereka di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada 29 Desember lalu. Setelah bertemu Siti, keesokan harinya mereka diajak ke Malang dan dikenalkan dengan Yuhdi. Setelah sampai di Kepanjen, mereka sempat distirahatkan di losmen Talangagung dan kemudian menginap di rumah Yahdi.
Tiga wanita ini juga bersedia menandatangani surat pernyataan bersedia diperkerjakan di kafe dan melayani lelaki hidung belang. VN dan tiga temannya mengaku setuju dengan perjanjian itu. Namun, dia kaget ketika akan berangkat ke Juanda ditangkap polisi.
Kasat Reskrim Polres Malang AKP Radiant menjelaskan, penangkapan tersebut berawal dari informasi satuan intel. Kemudian, bersama-sama dengan reskrim dan intel melakukan penyelidikan dan menyusun rencana penangkapan tersebut. Menurut Radiant, atas tindakannya itu, Yahdi dijerat dengan pasal 2 ayat 1 UU21/2007 tentang pemberantasan tindak pidana penjualan orang. "Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun," jelas Radiant
MALANG - Malam pergantian tahun baru menyisakan duka mendalam bagi keluarga Marjuki, 40. Pria yang tinggal di Jl Simpang Laksda Adi Sucipto ini harus kehilangan istrinya, Sunarti, 39. Ibu dua anak ini tewas dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Jl Raya Gadang, Kecamatan Sukun, pukul 22.30.
Kematian buruh bagian produksi PR Grendel ini cukup memilukan. Karena, peristiwa yang merengut jiwanya itu terjadi saat dia mengantarkan anak serta keponakannya membeli terompet dan topi untuk memeriahkan perayaan tahun baru di rumah kakeknya Jl Gadang VI/39, Sukun.
Sayangnya, belum sempat trompet itu ditiup dan topi terbuat dari kertas itu dikenakan, Sunarti keburu meninggal dalam perjalanan ke RS Panti Nirmala.
Sementara dua bocah yang diajak naik sepeda motor, yakni Dista Rahmanasari, 5, (keponakan) dan Suyudi Faris Setiawan,9, (anaknya), selamat kendati sempat terlempar sekitar 5 meter dari sepeda motor. Keduanya hanya menderita luka ringan di bagian kaki. Sedang Surahman, 35, saudara ipar yang mengendarai sepeda motor terluka pada dada dan kaki. Kemarin pagi, ketiga korban luka ini sudah diperbolehkan pulang dan hanya menjalani rawat jalan.
Peristiwa yang menimpa para korban berawal dari berkumpulnya mereka di rumah kakeknya, Samar, 75, untuk merayakan pergantian tahun. Saat itulah, Dista dan Suyudi minta kepada orang tua mereka untuk dibelikan trompet serta topi tahun baru yang terbuat dari kertas.
Sekitar pukul 22.30, Sunarti yang dibonceng Surahman beserta dua bocah berangkat naik sepeda motor Yamaha Vega N 3869 AI. Mereka pergi ke penjual terompet yang berada di sepanjang Jl Kolonel Sugiono. "Kami memilih membelinya di PKL yang berada di seberang jalan depan gerai Alfamart. Jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah kami,'' ujar Surahman, saat ditemui di rumah Samar, kemarin. Tiga terompet dan satu topi mereka beli seharga Rp 21 ribu.
Berlanjut, mereka pulang melalui jalan yang semula. "Arus saat itu ramai, rata-rata kendaraan yang lewat besar-besar dan melajunya sangat kencang. Makanya saya pilih sejak awal ambil jalur kanan sebelum belok ke gang rumah kami,'' tuturnya.
Saat tiba di depan Jl Kolonel Sugiono I, pria yang kesehariannya jualan bubur ayam keliling di Dinoyo ini dikagetkan dengan munculnya motor dari arah selatan yang dikendarai dua orang, Achmad Rudianto, 20, warga Jl Gadang XVII dan Syamsul, 19, warga Jl Lowokdoro Gg Pete.
Sepeda motor N 3196 CS yang dikendarai keduanya oleng dengan kecepatan tinggi. Lalu menabrak sisi samping sebelah kanan motor Surahman. Tabrakan hebat pun terjadi, hingga semua orang yang terlibat terlempar.
Akibat tabrakan itu, Sunarti terkapar dengan luka parah di kepala. Sedang Surahman dan Suyudi pingsan. Hanya Dista yang saat itu tersadar dan menangis melihat ayahnya terluka. Para pengguna jalan pun lekas menolong para korban dan melarikan diri ke RS Panti Nirmala.
Setelah menjalani perawatan, jiwa Sunarti tidak lagi tertolong. Sekitar pukul 01.00 Sunarti meninggal. Jenazahnya kemarin pagi sekitar pukul 10.00 dimakamkan di TPU Gadang. Sementara kasusnya ditangani oleh Unit Laka Lantas Polresta Malang.
Selain Sunarti, pada malam pergantian tahun kemarin M Ridoi, 27, warga Dusun Sumberpang Kidul, Desa Sumbersuko, Wagir, tewas terjatuh dari sepeda motor saat berusaha mengindari penyeberang jalan di Jl Raya Wagir.
Selain korban meninggal, data Radar pada malam pergantian tahun di RSSA Malang mulai 31 Desember 2008 pukul 07.00 hingga 1 Januari 2009 pukul 14.00 terdapat 140 orang yang dirujuk ke RSSA. Sebanyak 31 di antaranya adalah korban kecelakaan lalu lintas, sedangkan sisanya dirujuk dengan status sakit dan korban kekerasan.
Sedangkan untuk korban kekerasan seperti aksi pemukulan dan pengeroyokan ada dua kasus yang ditangani polisi. Pertama dialami Ardi Saputra,17, warga Jl Ir Rais IX, Sukun. Dia menjadi korban pengeroyokan tiga pria berambut cepak yang diduga oknum TNI. "Jumlah semuanya ada tujuh orang, namun hanya tiga orang yang memukuli saya,'' kata Ardi, di IRD ketika minta visum sebagai bukti pelengkap laporannya ke Denpom V/3 Malang kemarin.
Peristiwa itu menimpanya sekitar pukul 03.00 di Jl Trunojoyo, Klojen. Amarah kawanan pria berambut cepak terhadap siswa SMU swasta di Kota Malang ini bersama dua temannya naik motor melintas di TKP. Dari arah berlawanan berpapasan dengan gerombolan pengeroyok dan nyaris bertabrakan. "Mereka turun dari kendaraan dan mengejar saja. Setelah bertatap muka, saya malah dipukuli hingga tiga kali dan teman saya sekali,'' katanya.
Aksi kekerasan kedua menimpa dua warga Jl Raya Telogomas III, Lowokwaru, yakni Suprapto dan Agus Kerto Slamet. Mereka menjadi sasaran amuk massa sejumlah pria tak dikenal yang sedang mabuk. Kasusnya ditangani oleh Polsekta Lowokwaru.
Sementara itu, Kapolresta Malang AKBP Daniel TM Silitonga mengatakan secara umum pelaksanaan pergantian tahun baru di Kota Malang berjalan tertib. "Andaikan ada peristiwa kemacetan, kecelakaan, atau perkelahian yang menyertainya, saya rasa itu masih dalam hal wajar dan tidak seberapa menonjol,'' katanya. Untuk kasus kecelakaan lalu lintas, ditindaklanjuti oleh unit lakalantas sedang kasus pengeroyokan atau perkelahian ditangai oleh satuan reskrim.
Sumadi, 50, saksi mata, menceritakan, sekitar pukul 12.00 angin bertiup cukup kencang cukup lama. 'Sekitar dua menitan,' ujar Sumadi saat ditemui di lokasi kejadian.
Saat itu, dia melihat papan reklame itu miring ke barat secara pelahan. Tahu papan bakal ambruk, banyak orang yang melihatnya spontan berteriak; awas ada papan ambruk. Beberapa orang yang melintas juga disuruh Sumadi menjauh dari sekitar reklame.
Untungnya, papan itu tidak jadi ambruk setelah ditahan kabel telepon. Kepanikan warga muncul setelah melihat kabel telepon itu makin lama kian turun. Mereka khawatir kabel itu putus dan papan reklame itu ambruk mengenai kendaraan yang lalu lalang.
Soal ambruknya papan reklame di kawasan Sumbersari kemarin siang, Kepala Satpol PP Kota Malang Diana Ina W.H. belum menerima laporan. "Mungkin karena hari libur, jadi laporan belum masuk. Padahal saya tadi seharian di kantor. Besok (hari ini, Red), coba saya cek," ucap Diana.
Menurut Diana, reklame sifatnya insindental. Jadi, yang perlu ditelurusi sebatas perizinan. Biasanya, masa berlaku hanya sekitar satu minggu. "Kewenangan satpol sebatas mengawasi izin masa berlakunya. Sudah habis atau belum. Kalau sudah habis, otomatis ditertibkan," ucapnya.
Legalitas perizinan itulah yang menjadi bagian tugas petugas satpol PP. Lain-lain, utamanya menyangkut konstruksi bangunan, di bawah kendali dinas perizinan. "Batasan sudah ada semua. Berapa tinggi dan lebarnya, itu dinas perizinan yang tahu dan berwenang menjawab," kata dia.
Terpisah, Kabid Pelayanan Dinas Perizinan Pemkot Malang Siswoyo belum bisa membeber soal lokasi-lokasi rawan reklame ambruk. Karena, ada divisi lain yang khusus mengawasi persoalan itu. 'Kalau saya ngomong sekarang malah salah. Lebih baik saya koordinasikan dulu dengan bagian pengawasan," kata Siswoyo ketika dihubungi petang kemarin.
Kendati begitu dia sempat menjelaskan bahwa pengawasan terhadap reklame dilakukan khusus pada lokasi-lokasi kategori rawan ambruk. Sayangnya, sampai saat ini belum ada pendataan lokasi-lokasi tersebut. "Sepertinya selama ini belum ada," ujarnya.
Pengelola Pasrah jika Sewaktu-waktu Ditutup
MALANG - Penertiban channel TV yang belum mengantongi rekomendasi kelayakan (RK) mulai berimbas pada stasiun radio. Karena, kondisi radio-radio swasta di Malang Raya juga tak kalah kritis dibandingkan televisi. Sedikitnya 20 radio Malang saat ini dalam proses izin memperebutkan satu kanal di Malang, yakni 87,9 FM.
Sudarmadji, direktur operasional Radio Citra Malang mengaku sempat kaget dengan penertiban channel TV di Malang. Apalagi, sempat beredar kabar bahwa di Malang ada dua radio yang terjaring penertiban Balmon (Balai Monitoring) Depkominfo 23-24 Desember lalu. "Sampai saat ini masih mengudara. Tapi kalau diminta turun kami patuh saja," ujarnya, kemarin.
Asal, kata Sudarmadji, semua transparan dalam proses perizinan. Mestinya juga, kata dia, program-program radio di Malang turut diawasi. Sebab, banyak radio yang berbekal izin tapi tidak memberi ruang luas pada publik. "Pengawasan harus terpadu. Mungkin butuh uji publik dalam proses ini," kata mantan wartawan Radar Surabaya itu.
Tentang proses izin Radio Citra Malang, lanjutnya, sebenarnya sejak 2004 telah diajukan. Tapi, selama itu tidak ada pemrosesan. Baru ada respons positif pada akhir 2007 lalu. "Bertahun-tahun kami menunggu. Jadwalnya Sabtu nanti (27/12) kami akan evaluasi dengar pendapat (EDP)," bebernya.
Hal senada dikatakan Anik Kusumawardani, mantan Koordinator Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) wilayah Malang. Menurut dia, untuk mutasi AM ke FM ada prioritas. Bahkan, sepanjang tidak mengganggu frekuensi radio atau TV yang exiting tidak jadi masalah. "Sebetulnya kalau membaca itu balmon tidak perlu menertibkan lebih dini. Karena hampir semua radio di Malang dalam proses izin," terang Anik.
Seperti kasus di Radio Senaputra, tempatnya bekerja. Proses izin telah dilakukan bertahun-tahun. Bahkan, awal 2008 lalu telah menjalani proses EDP. Janjinya, 60 hari setelah EDP digelar, surat rekomendasi turun. Tapi hingga sekarang RK yang diharapkan tak kunjung terbit. "Rumornya akan ada solusi tentang banyaknya pengajuan yang memperebutkan satu kanal radio di Malang, yakni sistem digital," bebernya.
Dia menjelaskan, satu kanal digital bisa menampung 40 program radio. Di lain hal, beberapa waktu lalu Depkominfo sudah gencar melakukan sosialisasi migrasi dari sistem analog ke digital. Selain lebih praktis, satu kanal digital kabarnya bisa digunakan untuk beragam channel. "Sepertinya semua teman-teman radio di Malang masih menunggu itu di tengah-tengah aktivitas siaran," kata Anik.
Ketua KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Jatim Fajar Arifianto menambahkan, proses perizinan tersebut memang cukup rumit. Karena banyak sekali tahapan yang dilalui. Di lain hal, tugas KPID selama ini hanya memproses dan merekomendasi pengajuan izin.
Selanjutnya proses itu diteruskan pada Balmon Depkominfo untuk mendapatkan RK. "Kami sendiri tidak bisa menjamin mana yang disetujui. Karena wewenang KPID hanya sampai proses izin saja," ujarnya.
Bagaimana dengan era digital? Tentang hal itu, Fajar mengatakan masih butuh proses. Karena saat ini baru tahap penggodokan sistem. Bisa jadi, peralihan ke digital radio maupun TV terlaksana 2010 mendatang. "Pengalihan dari sistem analog ke digital masih lama. Karena ketentuannya masih dibahas," terang Fajar.
Seperti diketahui, 12 stasiun TV nasional dan lokal (bukan 11 seperti yang diberitakan kemarin), sejak 23 Desember ditertibkan Balmon Depkominfo karena tidak mengantongi RK untuk siaran di Malang. Sebanyak 12 channel TV itu adalah Malang TV, Trans TV, Trans7, ATV, Global TV, Batu TV, Space Toon TV, Mahameru TV, Dhamma TV, JTV, Metro TV, dan TV One. Sedangkan untuk radio, saat ini masih tersisa satu kanal yang diperebutkan 20 stasiun radio.
Terungkap sudah penyebab kasus tudingan penganiyaan yang
dialamatkan kepada tiga oknum guru SMPN 1 Lawang. Tutur Anjar Jiwandono,
13 tahun, korban yang mengaku dianiaya ternyata tertangkap basah merokok
di atas plafon bersama temannya.
?Dia tertangkap basah merokok mbak, di atas plafon bersama satu temannya
lagi. Pegawai, tukang kebun kami yang mengetahui, setelah dia disuruh
mengecek oleh bu Mutmainah, guru BP kami,?? jelas Sunaryo, Kepala SMPN 1
Lawang sembari mengelus dada kepada Info Malang kemarin.
?Kami memang tidak tahu siapa yang berbuat pengrusakan ini. Tapi yang
jelas plafon ini sengaja dijebol. Dan di atas sana kami menukan ratusan
putung rokok. Bukan masalah itunya, tapi bagaimana jika tersengat
listrik,?? ujarnya saat mengajak Info Malang melihat lokasi plafon yang
digunakan tempat merokok.
Sunaryo yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah hampir dua tahun itu
kemudian menjelaskan, banyak perbedaan kronologis yang disampaikan Anjar
kepada media. Terutama soal pemukulan. ?Tidak begitu mbak ceritanya.
Tidak ada yang memukul. Tidak ada yang menampar. Kami berani bertanggung
jawab. Karena prinsip kami tidak boleh memukul siswa, salah ataupun
tidak bersalah,?? tegasnya dengan nada heran mengetahui sikap Anjar.
Kalaupun Anjar mengaku dipukul, sebaliknya Sunaryo mengatakan hanya
memegang. ?Dia hanya dijendulkan saja kepalanya. Tidak seperti yang
diberitakan hingga ditampar, dipukul atau apalah itu. Dia hanya
mengada-ada,?? kata Sunaryo meyakinkan.
Sunaryo juga mengungkapkan, jika ada yang sakit di bagian tubuh Anjar,
itu bukan karena pihak sekolah. ?Saya sudah mendengar ceritanya dari
Anjar sendiri, tanpa ada paksaan. Siapa yang membuat dia sakit. Yang
saya heran, kenapa kami dikambing hitamkan,?? Tanya Sunaryo dengan
menggeleng-gelengkan kepala.
Yang lebih mengherankan lagi, lanjutnya, sebetulnya kasus ini sudah
selesai. Kedua orang tua Anjar yang dipanggil siang kemarin juga sudah
menerima. Pihak orang tuanya menyerahkan kepada pihak sekolah. Padahal,
harusnya Anjar mendapat sanksi keras dikembalikan sementara ke orang
tuanya. Itu karena Anjar ketahuan merokok di areal sekolah.
Sunaryo juga mengatakan, pihaknya sudah berbaik hati dengan Anjar, yaitu
tidak memberikan sanski mengembalikan kepada orang tuanya untuk
selamanya. Masalahnya, selama sekolah di SMPN I Lawang, Anjar sudah
sering membuat ulah. Bahkan untuk kelas IX, Anjar sudah lima kali
terkena peringatan.
?Kalau menuruti tata tertib sekolah, sanksinya tiga kali melakukan
pelanggaran, dikembalikan ke orang tua. Tapi ini lebih dari lima kali
mbak. Dan kami masih mempertahankannya. Karena kami yakin jika dia masih
bisa dibina dan akan lebih baik,?? tambahnya.
Pelanggaran yang dilakukan Anjar pun beragam. Yaitu tidak masuk kelas
pada jam pelajaran, tidak masuk sekolah tanpa izin, membawa HP berisi
video porno, merokok, dan beberapa pelanggaran-pelanggaran lainnya.
Sementara ditanya prestasi Anjar, Sunaryo pun geleng-geleng kepala. ?Dia
itu salah satu siswa yang naik kelas dengan angka sangat mepet. Tapi kok
ya tidak sadar, dan malah memperkeruh dengan berbagai permasalahan,??
pungkasnya.
BATU - Sejak kemarin siang, siaran sejumlah stasiun TV lokal dan TV
swasta nasional yang bisa ditangkap di Malang Raya mendadak terhenti.
Diantaranya adalah ATV, Batu Malang TV, Dhamma TV dan Mahameru TV.
Kemudian televisi nasional yang siarannya tidak bisa ditangkap TransTV,
Trans7, TV One, Metro TV dan Global TV.
Tampaknya televisi-televisi itu ketakutan setelah Balai Monitoring,
(Balmon) kemarin melakukan inspeksi mendadak ke semua stasiun TV lokal
dan transmisi televisi nasional yang ada di Batu dan Malang.
Kepala Dinas Informasi, Komunikasi dan Perpustakaan Kota Batu, Syamsul
Huda yang dihubungi tadi malam menjelaskan, berhentinya siaran sejumlah
TV itu setelah Balmon meminta siaran TV baru bisa dilanjutkan bila sudah
mengantongi rekomendasi kelayakan (RK) siaran dari KPI Jawa Timur.
Syamsul menerangkan, kemarin, Balmon mendatangi stasiun transmisi,
TransTV, Trans7, TV One, Global TV, ATV, Batu TV. Selanjutnya mendatangi
stasiun Malang TV, Dhamma TV dan Mahameru TV.
Setelah mendatangi stasiun TV tersebut, siarannya pun langsung off
sementara. ??Semua TV yang saya sebutkan itu, sebelumnya sudah dapat
surat dari Balmon agar off dulu sebelum dapat RK,?? jelasnya melalui
telepon.
Lebih lanjut dia menjelaskan, sebelumnya ada ketentuan dari Menkominfo
yang meminta agar semua stasiun TV memiliki RK. Untuk mendapat RK ini,
lanjut dia, harus melalui sejumlah tahapan, diantaranya pra evaluasi
dengar pendapat (EDP), EDP tahap I dan EDP.
Begitu juga siaran TV nasional di daerah harus mengantongi izin terlebih
dahulu dari KPI Jawa Timur. Hanya saja, belum ada penjelasan resmi
apakah semua TV nasional yang siaran di daerah sudah memiliki izin atau
belum.
Khusus untuk ATV, Syamsul menegaskan, sekarang hanya menunggu RK saja.
Karena EDP sudah selesai dilakukan. ??Karena sudah memiliki EDP,
diperkirakan RK ATV sudah bisa dimiliki sekitar Januari mendatang,??
jelasnya.
Sampai berita ini diturunkan, sejumlah stasiun TV nasional belum
berhasil dikonfirmasi. Malang Post sempat konfirmasi ke Gufron dari
stasiun transmisi Trans TV, tapi dia meminta untuk konfirmasi ke kantor
pusatnya di Jakarta.
Setelah dihubungi via ponsel ke nomor stasiun TransTV yang diberikan
Gufron, tidak ada yang menerima telepon. Begitu juga Syamsul Huda,
Kadiv Penertiban Balmon yang tidak berhasil dikonfirmasi melalui ponselnya.
Saat ditelepon ke ponselnya, sempat ada nada sambung. Namun tidak
menerima telepon masuk. Dihubungi lagi beberapa saat kemudian, nomor
ponsel Syasmul tak bisa dihubungi lagi.
Bahkan lantaran televisi itu tidak siaran, kantor redaksi Malang Post
juga menjadi sasaran pertanyaan pembaca. Mereka menanyakan tentang
siaran sejumlah TV yang off mendadak.